Jumat, 27 Desember 2013

Rumah Adat SUMUT


Rumah Bolon

 

Rumah adat ini disebut sebagai “Si Baganding Tua” oleh suku Batak, yaitu makhluk seperti ular yang panjangnya sekira dua jengkal. Dahulu nenek moyang orang Batak percaya bahwa nasib mujur dan rezeki yang melimpah dibawa “Si Banganding Tua”.
Ruma gorga atau sering disebut ruma bolon atau “Si Baganding Tua” adalah rumah adat suku Batak yang sekaligus menjadi simbol status sosial masyarakat yang tinggal di Tapanuli, Sumatera Utara. Mereka yang dikategorikan sebagai suku Batak itu meliputi 6 puak, yaitu: Batak Toba, Batak Karo, Batak Pakpak, Batak Simalungun, Batak Angkola, dan Batak Mandailing.
Rumah adat Batak terdiri atas 2 bangunan utama yaitu ruma (tempat tinggal) dan sopo (lumbung padi). Letak keduanya saling berhadapan dipisahkan pelataran luas yang berfungsi sebagai ruang kegiatan warganya. Rumah adat ini berbentuk empat persegi panjang dengan denah dalamnya merupakan ruangan terbuka tanpa kamar atau pun sekat pemisah. Dahulu, sebuah rumah adat Batak berukuran besar (rumah bolon) dihuni 2 hingga 6 keluarga.
Sapukan pandangan Anda pada rumah adat ini yang atapnya berbentuk segitiga dan bertingkat tiga. Amati bagaimana di setiap puncak dan segitiganya terdapat kepala kerbau yang melambangkan kesejahteraan bagi penghuni rumahnya. Ciri utama bagian atap yang berbentuk segitiga tersebut berbahan anyaman bambu (lambe-lambe). Biasanya lambe-lambe menjadi personifikasi sifat pemilik rumah tersebut yang ditandai dengan warna merah, putih dan hitam.
Perhatikan juga lekukan ketelitian dari ukiran tradisional di dinding rumah adat ini. Bagian luar dan depan rumah memuat ukiran yang dicat tiga warna yaitu merah-hitam-putih. Ukiran tersebut nyatanya penuh makna simbolik yang menampilkan pandangan kosmologis dan filosofis budaya Batak. Di sebelah kiri dan kanan tiang rumah ada ukiran yang menggambarkan payudara sebagai lambang kesuburan (odap-odap). Ada juga ukiran cicak sebagai lambang penjaga dan pelindung rumah (boraspati).
Rumah adat Batak dihiasi ukiran khas Batak yang disebut gorga. Gorga bagi suku Batak adalah ornamen yang mengandung unsur mistis  penolak bala. Biasanya ukiran gorga ditempatkan di dinding rumah bagian luar.
Keunikan desain ruma bolon adalah hiasan pada kusen pintu masuknya berupa ukiran telur dan panah. Tali-tali pengikat dinding miring (tali ret-ret) terbuat dari ijuk atau rotan yang membentuk pola seperti cicak berkepala 2 saling bertolak belakang. Cicak itu dikiaskan sebagai penjaga rumah dan 2 kepala saling bertolak belakang melambangkan penghuni rumah mempunyai peranan yang sama dan saling menghormati.

Pada konsep tradisional, nyatanya memang rumah-rumah tradisional di Nusantara tidak hanya memiliki dimensi fungsional sebagai tempat hunian tetapi juga sekaligus melalui unsur-unsur bentuk tertentu. Posisi ruma bolon juga menunjukan tentang kepercayaan suku ini yaitu banua ginjang (dunia atas), banua tonga (dunia tengah/bumi), dan banua toru (dunia bawah atau dunia makhluk halus).
Penataan perkampungan suku Batak Toba mengikuti pola berbanjar dua saling berhadapan berporos ke arah utara selatan dan membentuk perkampungan yang disebut lumban atau huta. Perkampungan tersebut memiliki 2 pintu gerbang (bahal) di sisi utara dan selatannya. Sekeliling lingkungan dipagari tembok setinggi 2 meter (parik) berbahan tanah liat dan batu. Selain itu, di setiap sudutnya dibuat menara pengawas karena dahulu mereka masih sering berperang. Tidak berlebihan apabila bentuk asli perkampungan suku Batak dulunya menyerupai benteng.
Dahulu sebuah perkampungan suku Batak dibuat dengan menggali tanah membentuk parit mengelilinginya juga ditanami bambu setinggi 3 meter. Bentuk perkampungan itu jadinya lebih menyerupai sebuah benteng untuk melindungi warganya dari serangan suku lain.
Sebutan untuk rumah Batak disesuaikan dengan hiasannya. Rumah adat dengan beragam hiasan yang indah yang rumit dinamakan disebut ruma gorgasarimunggu atau jabu. Sementara rumah adat yang tidak memiliki ukiran dinamakan jabu ereng atau jabu batara siang.
Untuk ruma gorga yang berukuran besar dinamakan ruma bolon. Selain sebagai tempat tinggal dahulu ruma bolon juga berfungsi sebagai tempat penyelenggaraan upacara adat religius. Sementara itu, ruma gorga yang berukuran kecil disebut jabu parbale-balean. Selain keduanya ada juga ruma parsantian, yaitu rumah adat yang menjadi hak seorang anak bungsu.
Ruma bolon kini tidak lagi dibangun oleh masyarakat Batak mengingat semakin sedikitnya orang yang mampu membangunnya (pande). Selain itu, bahan pembuat bangunannya sulit didapat serta harganya akan jauh lebih mahal dari rumah modern.
Akan tetapi, Anda masih dapat melihat langsung rangkaian utuh rumah adat kaya nilai budaya Batak ini di beberapa tempat seperti di Kabupaten Tapanuli Utara di Desa Tomok, Desa Ambarita, Desa Silaen, dan Desa Lumban Nabolon Parbagasan. Desa-desa tersebut hingga kini terus menjadi daya tarik wisata budaya dan banyak dikunjungi wisatawan.
Nenek moyang orang suku Batak sendiri berasal dari Tamil India dimana mereka datang abad ke-10 untuk berdagang rempah-rempah ke Pulau Sumatera melalui pelabuhan Barus. Pada abad ke-18 permukiman kuno warga Tamil India ditemukan di Lobu Tua, Barus, diperkirakan  perkampunga tersebut sudah berusia lebih dari dua abad. Ada dua prasasti berbahasa Tamil ditemukan di kawasan itu yang menyatakan bahwa tahun 1088 sebanyak 1.500 warga Tamil datang ke Barus untuk berdagang kapur barus dan kemeyan.Kata ‘batak’ sendiri berasal dari kata ‘mamatak hoda’ yang bermakna ‘si penunggang kuda‘, apakah ini ada kaitan dengan pendatang dari Tamil tersebut?

SISINGAMANGARAJA

Sosok Pahlawan Nasional Indonesia asal Sumatera Utara ini sempat menghiasi uang kertas Rp1000,- sejak tahun 1980-an. Anda pasti mengenali wajahnya yang berjambang tersambung dengan janggut, juga pakaian adat setengah badan serta ikat kepala khas Batak. Kenali sosok pahlawan ini dan bagimana perjuangannya sehingga memiliki kesan saat menyambangi beberapa peninggalan sejarahnya sekitar Danau Toba.

Sisingamangaraja XII yang lahir tahun 1849 di Bakkara, sebuah tempat indah di tepian Danau Toba itu memiliki nama kecil Patuan Bosar gelar Ompu Pulo Batu. Nama ‘sisingamangaraja’ sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yaitu ‘singa’ dan ‘mangaraja’. Ia dinobatkan menjadi raja tahun 1871 saat usianya baru 19 tahun dan sempat merantau ke Aceh termasuk untuk menjalin persekutuan melawan Belanda. Oleh karena itu, ketika perang meletus, perjuangannya dibantu pasukan dari beberapa suku di Aceh. Ada yang menyebut Sisingamangaraja XII bekerjasama dengan Panglima Nali dari Kerajaan Minangkabau dan Panglima Teuku Mohammad dari Kerajaan Aceh. Persekutuan itulah yang menyebabkan Aceh dan Tanah Batak sulit ditaklukkan Belanda.

Sisingamangaraja XII dikenal sebagai orang yang anti perbudakan dan penindasan, ia sangat menghargai hak kemerdekaan hidup. Raja Sisingamangaraja XII berjuang menentang kekuasaan Belanda di Tapanuli, Sumatera Utara. Dengan dukungan rakyatnya, tahun 1877 ia menyatakan perang kepada Belanda. Perang panjang pun berlangsung selama 3 dasawarsa bermula di Bahal Batu, Humbang dan berikutnya meluas di selutuh Tanah Batak bahkan Belanda mengerahkan pasukannya dari Singkil Aceh.

Bermula tahun 1837, setelah Belanda berhasil menang dalam Perang Paderi itu merupakan awal untuk melapangkan jalan menguasai Minangkabau dan Tapanuli Selatan. Perlahan Minangkabau jatuh juga, disusul Natal, Mandailing, Barumun, Padang Bolak, Angkola, Sipirok, Pantai Barus, dan kawasan Sibolga. Akibatnya, Tanah Batak terpecah menjadi dua, yaitu daerah yang telah direbut Belanda menjadi Gubernemen atau disebut “Residentie Tapanuli dan Onderhoorigheden” yang dipimpin seorang Residen di Sibolga dan secara administratif tunduk kepada Gubernur Belanda di Padang. Daerah yang belum ditaklukkan Belanda masuk wilayah Tanah Batak atau ‘De Onafhankelijke Bataklandan’ atau Tanah Batak yang merdeka yaitu meliputi wilayah: Silindung, Pahae, Habinsaran, Dairi, Humbang, Toba, dan Samosir.

Belanda kemudian menguasai Balige untuk merebut kantong logistik pasukan Sisingamangaraja XII di Toba, untuk selanjutnya mengadakan blokade ke Bakkara. Berikutnya pada 12 Agustus 1883, Bakkara, tempat istana dan markas Sisingamangaraja XII berhasil direbut sehingga ia mundur ke Dairi bersama pengikut setian, keluarga, dan para panglima yang terdiri dari beberapa suku Aceh.

Tahun 1883, Belanda mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghancurkan pasukan Sisingamangaraja XII di hampir seluruh Tanah Batak. Sisingamangaraja XII kemudian membalasnya dengan menyerang Belanda di Balige dari Huta Pardede menggunakan armada laut dari Danau Toba. Sekira 40 kapal perang (solu bolon) yang panjangnya 20 meter menyerang sehingga perang pun pecah dengan sengit.

Pada 17 Juni 1907, di pinggir Sungai Aek Sibulbulon, Desa Si Onom Hudon (sekarang perbatasan Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Dairi), Sisingamangaraja XII tertembak setelah bertempur dalam jarak dekat dengan sebuah pasukan khusus pimpinan Kapten Christoffel. Diceritakan bahwa Sisingamangaraja XII kebal peluru namun karena terpercik darah putrinya, Lopian yang tertembak, maka Sisingamangaraja XII pun gugur bersama dua putranya yaitu Patuan Nagari dan Patuan Anggi. Sebelumnya, hampir seluruh kerabat dan keluarga Raja Sisingamangaraja XII ditangkap termasuk Boru Situmorang (ibu Sisingamangaraja XII), Boru Sagala (isteri Sisingamangaraja XII), dan putra-putri Sisingamangaraja XII yang masih kecil, yaitu Raja Buntal, dan Pangkilim. Berikutnya pengikutnya pun berpencar dan meneruskan perlawanan.

Sebelum Sisingamangaraja XII gugur, ia sempat ditawari untuk diangkat sebagai Sultan atas Tanah Batak oleh Gubernur Belanda Van Daalen. Bahkan Sang Gubernur sendiri berjanji akan menyambut kehadirannya dengan seremonial tembakan meriam 21 kali. Akan tetapi, Sisingamangaraja XII menolaknya bahkan semakin gencar melakukan perlawanan.

Sisingamangaraja XII kemudian dikebumikan oleh Belanda secara militer pada 22 Juni 1907 di Silindung. Makamnya baru dipindahkan ke Soposurung, Balige, seperti sekarang ini sejak 17 Juni 1953.

Anda dapat menyusuri jejak sejarah Sisingamangaraja XII dengan mengunjungi Istana Sisingamangaraja yang sudah berumur 103 tahun di Kecamatan Bakti Raja, Humbang Hasundutan. Di areal seluas 100 x 100 meter itu berdiri istana yang meliputi tiga buah rumah adat, yaitu rumah bolo, sopo parsaktian dan sopo bolon. Ada juga bangunan peninggalan sejarah berupa tempat pemujaan dan lainnya. Temukan juga Batu Siungkap-ungkapan atau Batu Panungkunan Boni di sekitar Istana Sisingamangaraja. Posisinya tepat di sebelah kiri pintu masuk istana. Menurut cerita masyarakat setempat, batu itu digunakan sebagai tempat petani meminta petunjuk untuk waktu turun ke sawah sehingga diharapkan nantinya hasil panen dapat baik dan melimpah.

Kunjungi juga Tapak Kaki Gajah Raja Sisingamangaraja dimana menurut cerita masyarakat setempat, Raja Sisingamangaraja menunggangi seekor gajah dan pada titik tertentu, gajahnya menginjak tanah lalu mengakibatkan keluar air. Sampai saat ini air tersebut dipercaya oleh masyarakat dapat membawa berkah dan mengobati berbagai macam penyakit.

Di Desa Bakkara, Kecamatam Bakti Raja, Kabupaten Humbanghasundutan, ada banyak peninggalan Raja Sisingamangaraja. Tempat tersebut sangatlah indah, sejuk dan nyaman. Ada juga Gua Tombak Sulu-sulu yang dulunya adalah tempat menenun ibu Raja Sisingamangaraja dan sempat menjadi tempat persembunyian Sisingamangaraja dan pengikutnya saat dikejar pasukan Belanda. Lokasi gua tersebut sekira 500 meter dari perkampungan terdekat.

Di Desa Sinambela, Kecamatan Bakti Raja, ada sebuah pohon hariara yang dipercaya masyarakat setempat sebagai tongkat Raja Sisingamangaraja yang ditancapkan di tanah lalu tumbuh menjadi sebuah pohon. Pohon besar itu tingginya 50 meter dengan diameter 5 meter dan usianya sudah ratusan tahun. Pohon hariara adalah sejenis pohon beringin dan banyak terdapat di Pulau Samosir.

Untuk menghormati perjuangan Raja Sisingamangaraja XII, tahun 1979 dibangun Monumen Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII di Kota Medan. Selain itu, beberapa universitas menggunakan namanya, yaitu: Universitas Sisingamangaraja XII (US XII) di Medan (1984), Universitas Sisingamangaraja XII Tapanuli (UNITA) di Silangit Siborong-borong Tapanuli Utara (1986), dan STMIK Sisingamangaraja XII di Medan (1987).